RADAR69.ID – Jakarta, Serangan drone Ukraina terus berkembang menjelang tutup tahun 2025, bukan cuma lewat serangan jarak jauh ke wilayah Rusia, tetapi juga lewat inovasi pertahanan udara murah untuk memburu drone musuh. Ukraina kini menyiapkan drone pencegat FPV berbentuk “termos terbang” bernama Sting, yang dirancang untuk menabrak dan menghancurkan drone bunuh diri Rusia yang makin cepat dan terbang lebih tinggi.
Suatu malam di awal Desember 2025, tim pemburu drone elite Ukraina memasang antena dan sensor, menyiapkan monitor, serta mempersiapkan Sting untuk mencegat ancaman malam hari yang kian intens.
Baca Juga: Maut di Tol! Kecelakaan Bus Semarang Tewaskan 16 Orang, Fakta-faktanya Bikin Ngeri
Serangan Drone Ukraina dan Peran Sting dalam Pertahanan Udara Murah
Komandan unit menyebut Sting efektif melawan drone bunuh diri Rusia yang kini kian canggih. ”Setiap target yang dihancurkan adalah sesuatu yang tidak mengenai rumah kita, keluarga kita, pembangkit listrik kita,” kata perwira itu, yang hanya dikenal dengan nama panggilan Loi.
Dalam protokol militer Ukraina, ”musuh tidak tidur, dan kita juga tidak”. Serangan malam ke kota-kota Ukraina dan infrastruktur listrik membuat Kyiv “menulis ulang” cara bertahan: memperkuat pertahanan berlapis dengan tambahan sistem berbiaya rendah, bukan hanya mengandalkan senjata mahal yang lama penggantiannya.
:quality(75)/https://cdn-dam.kompas.id/images/2025/12/23/3c9e51f5ce94d42c68dd9faa435ffc91-AP25355638650535.jpg)
Sting disebut punya biaya sekitar 1.000 dollar AS dan diproduksi cepat, dari prototipe hingga produksi massal dalam hitungan bulan sepanjang 2025. Model pencegat seperti Sting dikembangkan oleh tim rintisan berbasis sukarelawan, serta diterbangkan pilot FPV yang memantau monitor atau memakai kacamata FPV.
Serangan Drone Ukraina Disebut Menghantam Volna, Dua Kapal dan Dermaga Rusak
Di sisi lain, serangan drone Ukraina juga dilaporkan menghantam wilayah pesisir Laut Hitam di area Krasnodar, termasuk desa Volna. Otoritas setempat menyebut dua kapal dan dua dermaga mengalami kerusakan, dan kebakaran sempat terjadi di lokasi. Disebutkan pula seluruh awak kapal dievakuasi dan tidak ada korban jiwa di antara awak kapal maupun personel darat.
Wilayah Volna berada dekat kawasan pelabuhan strategis yang menangani berbagai komoditas, sehingga dampak serangan ini ikut memicu perhatian terhadap keamanan jalur logistik dan energi Rusia. Selain kerusakan pada dermaga dan kapal, puing drone juga dilaporkan merusak bagian pipa di salah satu terminal, memicu kebakaran terpisah.
Serangan Drone Ukraina Dibalas, Kyiv Diserang dari Udara
Ketegangan berlanjut ketika Rusia melancarkan serangan udara ke ibu kota Ukraina, Kyiv, pada Selasa (23/12/2025) dini hari waktu setempat. Administrasi militer Kyiv menyampaikan peringatan kepada warga untuk tetap berada di tempat perlindungan.
“Pasukan pertahanan udara sedang berupaya untuk menghilangkan ancaman di langit di atas ibu kota,” demikian pernyataan administrasi militer Kyiv.
Pada fase awal laporan, belum ada informasi resmi soal korban jiwa atau kerusakan signifikan. Namun pola saling serang—drone, rudal, dan serangan malam—terus menekan sistem energi serta pusat-pusat kota di kedua pihak.
Perang Ekonomi di Medan Tempur
Selain aspek militer, serangan drone Ukraina dan penggunaan drone pencegat murah juga dibaca sebagai strategi ekonomi. Andrii Lavrenovych dari perusahaan yang mengembangkan drone pencegat menyebut perbandingan biaya menjadi kunci, karena drone musuh yang dihancurkan nilainya jauh lebih mahal.
”Kami menimbulkan kerusakan ekonomi yang serius,” katanya.
Di sisi Rusia, drone bunuh diri Shahed rancangan Iran beserta variannya disebut terus berkembang—mulai dari pengacau sinyal, kamera, hingga mesin yang lebih cepat. Namun Ukraina mengklaim berupaya mengejar dengan solusi inovatif dan produksi cepat.
”Di beberapa bidang, mereka selangkah lebih maju. Di bidang lain, kami menciptakan solusi inovatif, dan mereka menderita akibatnya,” kata Lavrenovych.
Tengah Jalur Diplomasi
Rangkaian serangan dan aksi balasan Rusia terjadi di tengah perundingan damai yang masih berlangsung. Disebutkan ada putaran pembicaraan yang dimediasi Amerika Serikat di Miami, Florida. Agenda tersebut mencakup pertemuan dengan delegasi Ukraina dan sejumlah negara Eropa. Selain itu, ada pula kontak terpisah dengan perwakilan Rusia.
Di tengah jalur diplomasi tersebut, intensitas serangan masih tinggi. Ukraina menekankan kebutuhan sistem pertahanan berbiaya murah. Peralatan ini dinilai bisa diproduksi secara massal. Tujuannya untuk melindungi kota dan infrastruktur penting. Sementara itu, serangan ke aset Rusia di laut dan wilayah pesisir dianggap sebagai upaya menekan jalur logistik dan sektor energi.
