RADAR69.ID – Jakarta, Kecelakaan bus Cahaya Trans bernomor polisi B 7201 IV yang terjadi di Simpang Susun Exit Tol Krapyak, Semarang, menewaskan 16 penumpang dan melukai 18 orang lainnya. Peristiwa ini terjadi pada Senin dini hari, 22 Desember 2025, saat bus melaju dari Jakarta menuju Yogyakarta.
Tim identifikasi gabungan Polri dan rumah sakit memastikan seluruh korban meninggal telah teridentifikasi. Proses pengurusan jenazah serta pendampingan keluarga korban dilakukan oleh Polda Jawa Tengah, pemerintah provinsi, dan pihak rumah sakit. Posko informasi juga disiapkan untuk membantu keluarga korban memperoleh data resmi.
Baca Juga: Viral dan Pilu! Lumba Lumba Rokan Ditemukan Mati di Sungai
Kecelakaan Bus Cahaya Diduga Kecelakaan Tunggal
Kapolda Jawa Tengah Irjen Ribut Hari Wibowo menyampaikan bahwa penyelidikan masih berlangsung untuk mengungkap penyebab pasti kecelakaan bus Cahaya tersebut. Dugaan awal mengarah pada kecelakaan tunggal.
“Sopir bus merupakan sopir cadangan. Saat ini sopir selamat dan telah diamankan di Polrestabes Semarang untuk keperluan pemeriksaan lebih lanjut,” jelas Kapolda di Semarang, Senin, 22 Desember 2025.
Sopir yang bertugas diketahui bernama Gilang Ihsan Faruq (22), warga Kota Bukittinggi, Sumatra Barat. Selain menjalani pemeriksaan, sopir juga menjalani tes urine guna memastikan tidak ada pengaruh zat terlarang saat kejadian.
Daftar Korban Meninggal

Sebanyak 15 korban meninggal disemayamkan di RSUP Dr. Kariadi, sementara 1 korban lainnya meninggal dunia dalam perjalanan ke RSUD Tugurejo Semarang.
Korban berasal dari berbagai daerah, antara lain Klaten, Boyolali, Bogor, Jakarta, Sleman, dan Tangerang Selatan. Aparat memastikan proses identifikasi, ante-mortem, dan post-mortem telah dilakukan untuk mempercepat pemulangan jenazah ke keluarga masing-masing.
Kesaksian Penumpang Selamat
Salah satu penumpang selamat, Sutiadi (67), mengungkapkan detik-detik kecelakaan bus Cahaya yang ia alami. Ia mengaku masih terjaga saat bus melaju dengan kecepatan tinggi.
“Kalau ke Jogja di Krapyak jalan itu turun. Tapi kok tidak ada perlambatan. Jadi mulai kencang terus,” kata Sutiadi.
Menurutnya, saat bus memasuki jalan menurun dan menikung, kecepatan tidak berkurang.
“Kalau perasaan saya itu kok tambah kenceng, padahal jalan turun. Padahal kendaraan kan jalan turun biasanya ada perlambatan itu enggak ada. Pas muter tikungan itu oleng, lalu terguling,” ujarnya.
Sutiadi selamat meski terlempar keluar bus dan mengalami luka di bagian wajah serta kaki.
Dampak bagi Keluarga Korban
Peristiwa kecelakaan bus Cahaya ini meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban. Sejumlah korban diketahui berasal dari satu keluarga yang sedang dalam perjalanan pulang. Empat korban bahkan masih memiliki hubungan saudara.
“Yang selamat cuma istri kakak saya (Srihono), yang dari Boyolali tidak ada semua (meninggal),” ujar Susanto, adik salah satu korban.
Di Sleman, seorang ibu dan anak yang menjadi korban dimakamkan dalam satu liang. Prosesi pemakaman dihadiri ratusan pelayat, sementara keluarga korban lain masih menunggu pemulangan jenazah dari Semarang.
Kecelakaan Bus Cahaya Jadi Perhatian Serius Aparat
Hingga Senin siang, seluruh korban telah dievakuasi dan penanganan medis terhadap korban luka masih berlangsung di beberapa rumah sakit. Aparat mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati dalam perjalanan jarak jauh, terutama pada momen libur panjang dan arus padat.
Penyelidikan lanjutan masih dilakukan untuk memastikan faktor penyebab kecelakaan, termasuk kondisi kendaraan, faktor kelelahan, serta aspek teknis lainnya. Pemerintah daerah dan kepolisian menegaskan komitmen untuk mendampingi keluarga korban hingga seluruh proses selesai.
